Laporan Akhir Praktikum Dasar-Dasar Ilmu Tanah

BAB I

PENDAHULUAN

            Tanah terdapat di mana – mana, tetapi kepentingan orang terhadap tanah berbeda – beda. Seorang ahli pertambangan menganggap tanah sebagai sesuatu yang tidak berguna karena menutupi barang – barang tambang yang dicarinya. Semua bahan yang digali kecuali batu – batunya dinamakan tanah. Demikian pula seorang ahli jalan menganggap tanah adalah bagian permukaan bumi yang lembek sehingga perlu dipasang batu – batu di permukaannya agar lebih kuat. Dalam kehidupan sehari – hari tanah diartikan sebagai wilayah darat di mana di atasnya dapat digunkan untuk berbagai usaha misalnya pertanian, peternakan, mendirikan bangunan, dan lain – lain.

            Dalam pertanian, tanah diartikan lebih khusus yaitu sebagai media tumbuhnya tanaman darat. Tanah berasal dari hasil pelapukan batuan bercampur dengan sisa – sisa bahan organic dan organisme (vegetasi atau hewan) yang hidup di atasnya atau di dalamnya. Selain itu di dalam tanah terdapat pula udara dan air.

            Air dalam tanah berasal dari air hujan yang ditahan oleh tanah sehingga tidak meresap ke tampat lain. Di samping pencampuran bahan mineral dengan bahan organic, maka dalam proses pembentukan tanah terbentuk pula lapisan – lapisan tanah atau horizon – horizon. Oleh karena itu, dalam definisi ilmiahnya tanah (soil) adalah kumpulan dari benda alam di permukaan bumi yang tersusun dalam horizon – horizon, terdiri dari campuran bahan mineral, bahan organic, air, dan udara, dan merupakan media untuk tumbuhnya tanaman. Tanah (soil) berbeda dengan lahan (land) karena lahan meliputi tanah beserta fakktor – factor fisik lingkungannya seperti lereng, hidrologi, iklim, dan sebagainya.

            Ilmu yang mempelajari proses – proses pembentukan tanah beserta factor – factor pembentuknya, klasifikasi tanah, survai tanah, dan cara – cara pengamatan tanah di lapangan disebut pedologi. Dalam hal ini tanah dipandang sebagai suatu benda alam yang dinamis dan tidak secara khusus dihubungkan dengan pertumbuhan tanaman. Walaupun demikian, penemuan – penemuan dalam bidang pedologi aka sangant bermanfaat pula dalam bidang pertanian maupun nonpertanian seperti pembuatan bangunan.

            Apabila tanah dipelajari dalam hubungannya dengan pertumbuhan tanaman disebut edaphologi. Dalam hal ini dipelajari sifat – sifat tanah dan pengaruhnya terhadap pertumbuhan tanaman, serta usaha – usaha yang perlu dilakukan untuk memperbaiki sifat – sifat tanah bagi pertumbuhan tanaman seperti pemupukan, pengapuran dan lain – lain.

            Dengan meningkatkan pengetahuan manusia tentang tanah, maka ilmu tanah menjadi ilmu yang sangat luas, sehingga untuk dapat mempelajari dengan baik perlu pengelompokan lebih lanjut ke dalam bidang – bidang yang lebih khusus.

            Dalam mempelajari ilmu tanah, kita tidak hanya cukup dengan teori belaka. Karena jika hanya teori tanpa praktek maka hasilnya tidak maksimal. Oleh karena itu, dalam mempelajari ilmu tanah kita juga disuguhi oleh paket pelajaran yang juga barengi dengan praktikum. Untuk ke depan kita akan membahas beberapa hal tentang tanah yang pengimplementasiannya berhubungan dengan langsung terjun ke lapangan maupun penelitian di laboratorium ilmu tanah.

            Praktikum lapangan maupun praktikum di laboratorium ini dilakukan untuk menunjang proses pembelajaran ilmu tanah dengan teori. Tujuannya adalah untuk mengsinkronkan antara teori yang didapat di kelas dengan data yang diperoleh di lapangan maupun di laboratorium nantinya.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengenalan Tanah di Lapangan

            Tanah merupakan tubuh alam atau kulit bumi yang terbentuk akibat bekerjanya gaya – gaya alam terhadap alam yang tersusun dari bahan – bahan mineral dan bahan – bahan organik. Tanah juga menyediakan unsur hara untuk pertumbuhan tanaman. Tanah juga dapat didefinisikan sebagai suatu tubuh alam yang terdiri dalam bentuk profil berasal dari suatu campuran yang berubah – ubah dari pecahan mineral, dan mineral yang mengalami pelapukan serta sisa – sisa bahan organik yang meliputi bumi dan air memberikan kekuatan dan sebagai makanan bagi tumbuhan. (Ahmad, 1980)

            Profil tanah didapatkan bila dilakukan pemotongan secara melintang suatu tanah secara tegak lurus dan menggambarkan bagian –bagian tanah mulai dari permukaan sampai lapisan induk. Lapisan ini disebut juga horizon dan di atas bahan induk seluruhnya disebut solum. Tiap tanah yang berkembang menjadi batu dan masih dalam keadaan aslinya mempunyai sifat – sifat ini dipakai dalam klasifikasi tanah. (Hakim dkk, 1986)

            Perkembangan suatu tanah akan tergantung pada jenis bahan induk yang menentukan sifat fisik tanah dan kimia tanah yang dihasilkan. Tanah atau tubuh alam akan dapat berdiferensiasi yang membentuk horizon –horizon mineral maupun organik yang kedalamannya beragam dan berbeda – beda sifatnya dengan induknya yang terletak di bawahnya. (Hakim dkk, 1986)

            Tanah yang dibentuk dari bahan – bahan berupa bahan mineral dan bahan organik, air serta udara yang tersusun dalam ruangan yang berbentuk tanah. Akibatnya berlangsunglah proses pembentukan tanah itu, maka terjadilah perbedaan morfologi, kimia , fisis, dan biologis dari berbagai tubuh tanah atau sejenisnya dengan kemampuan tanah yang berbeda pula. Satuan terkecil untuk tubuh tanah disebut Pedon yang merupakan suatu bagian dari pedosfer. (Hakim, Nurhayati, Yakna, Lubis, Nugroho, Saul, [Hongdon Havley, 1986])

            Menurut Hakim (1984), sifat – sifat tanah dapat digambarkan dari warna tanah yang bervariasi. Warna tanah juga menentukan bahan organik yang dikandung, kondisi aerase dan drainase. Jumlah tanah berwarna hitam lebih subur karena banyak mengandung bahan organik.

            Perkembangan pembentukan profil tanah dipengaruhi oleh topografi, yaitu dipengaruhi oleh curah hujan, terarbsobsi dan tersimpan di dalam tanah, mempengaruhi tingkat perpindahan tanah oleh aerosi, mempengaruhi arah pergerakan bahan dalam suatu suspense atau larutan dari suatu tempat ke tempat yang lainnya. (Hakim, 1984)

            Menurut Hakim et  al (1986) cirri khas tanah adakalanya terjadi penumpukan liat atau oksida besi pada horizon B. jika pada horizon Bterdapat banyak partikel – partikel liat, maka disebut dengan B2t adalah tanah yang menunjukkan horizon itu banyak mengandung besi.

            Menurut Subagyo (1970), struktur tanah yang baik adalah yang mengandung udara dan air dalam jumlah yang cukup dan seimbang serta mantap, atau di mana terdapat perbandingan perimbangan yang sama antara air dan udara.

            Pengamatan profil tanah berguna untuk melihat sifat dan cirri tanah terutama morfologi tanah tersbut adalah konsistensi, lapisan tanah, warna tanah, struktur dan tekstur tanah. (Hakim et al, 1986)

 

2.2 Fisika Tanah

2.2.1 Tekstur Tanah

            Menurut Subagyo (1970), tekstur tanah adalah perbandingan relative fraksi – fraksi pasir, liat, dan debu. Dalam setiap masa tanah perbandingan fraksi – fraksi itu berbeda. Dapat terjadi bahwa pada suatu masa tertentu tanah. Pasir merupakan penyusun yang paling besar. Sebaliknya pada tanah lain, kandungan debu, liat dan pasir sama banyaknya.

            Tekstur tanah adalah perbandingan kandungan partikel – partikel tanah primer berupa fraksi liat, debu, dan pasir  dalam masa tanah. (Syarief, 1980)

            Tekstur tanah penting kita ketahui oleh karena komposisi ketiga fraksi dari butir – butir tanah akan menentukan sifat – sifat fisika dan kimia tanah. Sebagai contoh, besarnya lapangan pertukaran ion – ion di dalam tanah sangat ditentukan oleh tekstur tanah. (Hakim, Nyakpa, Lubis, Nugroho, Saul Hong, 1986)

            Untuk menentukan kelas tanah di lapangan dapat dilakukan dengan perasaan yaitu dengan cara menggosokkan tangan di antara ibu jari dan jari – jari lainnya. Untuk dapat mengira sifat litany, lebih baik bila tanah dibersihkan terlebih dahulu. Didasarkan halus lengket, memberikan gambaran yang baik tentang liat yang dikandung. Begitu pula bila hendak menentukan tekstur debu atau pasir. Tanah yang berstekstur ringan (kandungan pasir tinggi) mudah diolah dan merembeskan air. Sedangkan tanah yang bertekstur liat atau berat menandakan bahwa tanah sukar diolah dan sukar merembeskan air. (Hakim et al, 1986)

            Syarief (1980) menjelaskan bahwa tekstur dapat diartikan secara kualitatif dan kuantitatif. Secara kualitatif, tekstur dapat menggambarkan perasaan apakah itu halus atau kasar. Hal ini dapat dirasakan apakah dengan mengambil sedikit tanah basah di antara jari telunjuk dan ibu jari. Jikalau terasa agak halus maka kandungan litany agak tinggi, sedangkan kalau terasa agak kasar maka kandungan pasirnya agak tinggi. Bagi yang berpengalaman cara ini mudah untuk menentukan kelas tekstur tanah di lapangan tanpa harus menggunakan segitiga tekstur. Dalam hal ini terdapat sebutan tanah dapat/ berat dan tanah ringan. Tanah yang bertekstur kasar atau pasir cenderung mudah lepas dan pengolahannya mudah dan ringan, sedangkan tanah yang bertekstur halus dapat menyerap banyak air bersifat plastis lengket sehingga tanah berat. Langkah penting dalam menganalisis tanah adalah membersihkan tanah dari zat perekat butir – butir tanah sehingga tiap – tiap butir tanah benar – benar terlepas dari ikatannya. Ada dua cara sangat popular dalam menetapkan sebaran umur tanah. Cara tersebut adalah metode pipet dan metode Gou Yucoy. (Alusius, 1980)

2.2.2 Penetapan Struktur

            Struktur tanah adalah penyusunan atau agregasi dari partikel – partikel primer seperti debu, pasir dan liat membentuk agregat yang satu sama lainnya yang membatasi oleh bidang belah alami. Agregat yang terbentuk secara alami disebut dengan PED, sedangkan istilah CLOD digunakan untuk bongkahan tanah dari hasil pengolahan tanah. Dan istilah lain yang sering meragukan dengan PED yang pecah. Kongkresi terbentuk di dalam tanah akibat presinitasi garam – garam terlarut dan sering terbentuk akibat fluktuasi yang besar dari permukaan air tanah. (Hakim et al, 1986)

            Struktur dapat dimodifikasikan pengaruh tekstur di dalam hubungannya dengan kelembaban, porositas, tersedianya unsur hara, kegiatan jasad hidup dan pertumbuhan akar. Satu contoh dapat ditemukan tentang hubungan struktur tanah dengan produktifitas tanah adalah kasus yang terjadi pada tanah di Alamanda, Texas, USA, di mana kandungan liat cukup tinggi yakni 60%. Hasil dari percobaan ditunjukkan bahwa tanah ini tidak akan produktif jika tidak terjadi perkembangan struktur yang sempurna yang mampu memperbaiki sistem dan gerakan – gerakan air. Struktur juga disifatkan menurut ukuran dan tingkat perkembangannya (kuat dan lemah). Tanah dikenal dua jenis tanpa struktur yakni butir tinggal (single grain) dan massive. Butir tinggal apabila partikel tanah dalam keadaan lepas tidak terikat satu dengan yang lainnya. Keadaan ini sering dijumpai pada kebanyakan tanah yang mengandung pasir. Beberapa partikel pada kebanyakan tanah terdapat pada kondisi butir tunggal ini. (Hakim et al, 1986)

2.2.3 Penetapan Kadar Air

            Salah satu yang penting bagi tanaman adalah lengas yang berisi bagian – bagian pori anatara tanah – tanah padat. Air sangat berpengaruh pada beberapa reaksi kimia dan fisika pada tanah maupun pertumbuhan tanaman. Air tanah merupakan dasar penting untuk memahami sebagian besar gejala fisika tanah. (Kartonegoro, 1989)

            Penetapan kadar air yang mutakdir adalah cara pembauran neutron. Atom hydrogen yang terdapat di dalam air tanah secara efektif dapat mengurangi kecepata neutron dalam mendaurkannya karena perubahan arah, sebagian dari air kembali ke asalnya. Tetapi telah berubah menjadi neutron yang mempunyai kecepatan yang diperlambat. (Hakim et al, 1986)

            Jumlah air tanah berpengaruh terhadap respirasi akan tanaman, kecepatan jasad mikro dan sifat kimia tanah. Bila tanah kekurangan air menyebabkan berkurangnya kecepatan  pertumbuhan tanaman, karena sel – sel tanaman itu tidak sepenuhnya merenggang. Selebihnya bila tanaman kelebihan air, tanah akan kekurangan udara dan tanaman tidak dapat tumbuh dengan baik, karena aktivitas tanaman terhambat. (Hakim, 1984)

                        Ada beberapa factor yang mempengaruhi reaksi tanaman terhadap kekeringan, yaitu P yang terlalu rendah, suhu yang terlalu tinggi, angin yang kencang dan kurang tersedianya air di dalam tanah. (Ismail, 1983)

            Air yang dserap oleh tanaman tergantung dari air yang diserap tersedia dalam tanah. Oleh karena itu pertumbuhan akan dipengaruhi beberapa banyak air yang dapat diserap dari tanah. (Soepardi, 1983)

            Air tanah mempunyai peranan yang penting bagi semua proses di dalam biologi tanah tersebut dalam pembentukan tanah. Air berfungsi sebagai pelarut dan mempercepat reaksi dalam tanah. (Subagyo, 1970)

            Pada kadar air yang tinggi kekurangan udara mungkin dapat menjadi penghambat bagi tumbuhan untuk tumbuh. Kecepatan tumbuh tanaman mencapai maksimum pada kadar air tanah berada dalam keadaan keseimbangan kapasitas lapang. Karena pada keadaan tersebut O2 cukup tersedia dan genangan air cukup rendah, sehingga memudahkan absorsi air. Setelah itu diserap, lapisan air menjadi tipis dan menyebabkan air sampai mendekati nol. (Hakim et al, 1986)

2.2.4 Penetapan Konsistensi

            Konsistensi tanah adalah kohesi di antara partikel – partikel tanah terhadap tanah terhadap perubahan bentuk oleh tekanan atau berbagai kekuatan dari luar yang mempengaruhi tanah. (Ahmad, 1980)

            Plastisitas adalah kemampuan tanah untuk diubah bentuk terbagi atas empat golongan, yaitu sebagai berikut. (1) Tidak plastis, (2) agak plastis, (3) plastis, (4) sangat plastis. Konsistensi lembab bila kadar airnya berada antara kapasitas lapang dan kering udara. Terdiri dari, sangat gembur, teguh, dan sangat teguh.

 

2.3 Penetapan C-Organik Tanah dan Penetapan Phospor

            Bahan organik adalah bahan pemantap agregat tanah yang tiada taranya. Sekitar setengah dari kapasitas  tukar kation (KTK) berasal dari bahan organik. Ia merupakan sumber hara bagi tanaman. Di samping itu, bahan organik adalah sumber energy dari sebagian besar organism tanah. (Nurhajati Hakim dkk, 1986)

            Sumber primer bahan organik adalah jaringan tanaman berupa akar, batang, daun, bunga, dan buah. Sumber sekunder bahan organik adalah berasal dari binatang. (Nurhajati Hakim dkk, 1986)

            Unsur P di dalam tanah berasal dari:

  • Bahan organik (pupuk kandang, sisa – sisa tanaman)
  • Pupuk buatan (TSP, DS)
  • Mineral – mineral di dalam tanah (apatit)

Jenis P di dalam tanah adalah sebagai berikut

  • P-organik (Phytin, nucleic acid, Phospho lipid)
  • P-organik. (Sarwono Hardjowigeno, 2003)

Di dalam tanah masam banyak unsur P, baik yang telah berada di dalam tanah maupun yang diberikan ke tanah sebagai pupuk (misalnya pupuk TSP) terikat oleh unsur – unsur Al dan Fe sehingga tidak dapat oleh tanaman. Apabila terikat oleh Al, maka terbentuklah senyawa Varisit yang sukar larut. (Sarwono, 2003)

Di bawah ini adalah beberapa fungsi dari unsur P:

  • Untuk pembelahan sel, pembentukan albumin, pembentukan bunga, mempercepat pematangan, memperkuat batang agar tidak mudah roboh,
  • Memperbaiki kualitas tanaman terutama sayur – sayur dan makanan ternak, perkembangan akar dan tahan terhadap penyakit, dll.

Gejala – gejala yang ditimbulkan akibat kekurangan P antara lain adalah sebagai berikut:

  • Pertumbuhan terhambat (kerdil), karena pembekalan sel telur terganggu.
  • Daun – daun menjadi berwarna ungu atau coklat mulai dari ujung daun, terlihat jelas pada daun yang masih muda,
  • Pada jagung, tongkol jagung menjadi tidak sempurna dan kecil – kecil.

 

2.4 Penetapan Kapasitas Tukar Kation dan Basa – Basa

            Besarnya KTK tanah dipengaruhi oleh sifat dan ciri tanaman itu sendiri yang antara lain adalah sebagai berikut.

Reaksi Tanah atau pH

             Pada kebanyakan tanah ditemukan bahwa pertukaran kation berubah dengan berubahnya pH tanah. Pada pH rendah, hanya muatan permanen liat, dan sebagian muatan koloid organik memegang ion yang dapat digantikan melalui pertukaran kation. Dengan demikian KTK relative rendah. Hal ini disebabkan oleh kebanyakan tempat pertukaran kation koloid organik dan beberapa fraksi liat, N dan mungkin hidroksi Al terikat kuat, sehingga sukar dipertukarkan.

            Dengan meningkatnya pH, hydrogen yang diikat oleh koloid organik dan liat berionisasi dan dapat digantikan. Demikian pula ion hidroksi-Al yang terjerap akan dilepaskan dan akan membentuk Al(OH)3. Dengan demikian, terciptalah tapak – tapak pertukaran baru pada koloid liat. Beriringan dengan perubahan itu KTK pun ikut meningkat.

Tekstur Tanah atau Jumlah Liat

            Dari berbagai cirri pengamatan tekstur tanah, ternyata KTK tanah berbanding lurus dengan jumlah butir liat. Semakin tinggi jumlah liat suatu jenis tanah yang sama, KTK juga bertambah besar. Makin halus tekstur tanah, makn besar pula jumlah koloid liat dan koloid organiknya, sehingga KTK juga semakin besar. Sebaliknya, tekstur kasar seperti pasir atau debu, jumlah koloid liat relative kecil. Demikian pula koloid organiknya, sehingga KTK juga relative lebih kecil daripada tanah bertekstur halus.

Jenis Mineral Liat

            Jenis koloid mempunyai muatan beragam, oleh karena itu juga akan mempunyai KTK yang beragam. KTK tanah Latososl sangat rendah, sedangkan KTK tanah Grumosol jauh lebih tinggi. Mineral liat yang dominan pada tanah Latosol adalah Kaolinit, sedangkan pada tanah Grumosol adalah Montmorilonit.

Bahan Organik

            Pengaruh bahan organik tidak dapat disangkal terhadap kesuburan tanah. Pada bagian terdahulu telah dikemukakan bahwa bahan organik mempunyai daya jerap kation yang lebih besar dari pada koloid liat. Berarti semakin tinggi kandungan bahan organik suatu tanah, maka semakin tinggi pula KTKnya. Ketentuan ini berlaku, apabila factor – factor lainnya relative sama.

Pengapuran dan Pemupukan

            Masukan kapur jelas menaikkan pH tanah. Pada tanah – tanah yang bermuatan tergantung pH, seperti tanah kaya akan montmorilonit atau koloid organik, maka KTK akan meningkat dengan pengapuran. Di lain pihak, pemberian pupuk – pupuk tertentu dapat menurunkan pH tanah, sejalan dengan hal itu KTK pun akan ikut menurun. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa pengaruh pengapuran dan pemupukan ini berkaitan erat dengan perubahan pH, yang selanjutnya akan mempengaruhi KTK tanah.

            Besarnya KTK tanah dinyatakan dengan satuan miliekivalen (me). Satu me sama dengan satu milligram hydrogen, atau sejumlah ion lain yang dapat berkombinasi atau menggantikan ion hydrogen. Bila suatu tanah mempunyai KTK satu miliekivalen pada tiap 100 gram (1 me/ 100g), berarti tanah tersebut dapat menjerap pH 1 mg/ 100 g, jumlah ini sama dengan 10 ppm. Berasumsi bahwa bobot tanah 1 Ha adalah 2 x 106 Kg, maka tanah ini akan menjerap ion H sebanyak 20 Kg/ Ha.

            Bagaimana pula menghitungnya bila dinyatakan terhadap kation lain. Mari kita ambil contoh ion Ca2+. Unsur Ca2+ mempunyai bobot atom 40 sedangkan H+ adalah 1. Tiap ion Ca mempunyai 2 muatan dan ekivalen dengan 2 ion H. Dengan demikian untuk menggantikan 1 mg H diperlukan 40/2, atau 20 mg Ca. bila suatu tanah sanggup menjerap 400 mg Ca/ 100 g, maka KTK tanah tersebut adalah 400/20 atau 20 me/ 100 g. (Nurhajati Hakim dkk, 1986)

 

2.5 Penetapan pH H-dd dan Al-dd

            Pertumbuhan tanaman dipengaruhi oleh pH tanah melalui dua cara yaitu, (1) pengaruh langsung ion hydrogen dan (2) pengaruh tidak langsung, yakni tidak tersedianya unsur hara tertentu dan adanya unsur – unsur yang beracun. (Nurhajati Hakim, dkk, 1986)

            Nilai pH atau aktivasi ion hydrogen (H) adalah cirri kimia yang paling penting dari tanah sebagai media tumbuh tanaman. Penetapan pH dengan air () menunujukkan kemasaman aktif (kemasaman akibat ion H dalam larutan tanah). Sedangkan dengan KCl ditujukan untuk pH poensial (kemasaman akibat ion H dan Al pada kompleks jerapan). Pada tanah masam, kandungan Al-dd sering jauh melebihi kandungan H-dd sehingga menimbulkan keracunan bagi tanaman. Dan sering pula menyebabkan kelarutan unsur fosfor (P) berkurang. (Nurhajati Hakim, 2009)

            Kebanyakan tanaman toleran terhadap pH yang ekstrim rendah atau tinggi, asalkan dalam tanah tersebut tersedia hara yang cukup. Sayangnya ketersediaan unsur hara tersebut dipengarihi oleh pH. Beberapa unsur hara tidak tersedia pada pH yang ekstrim, dan beberapa unsur lainnya berada pada tingkat meracun. Perharaan yang sangat dipengaruhi oleh pH anatara lain adalah: (1) kalsium dan magnesium dapat ditukar, (2) aluminium dan unsur mikro, (3) ketersediaan fosfor, (4) perharaan yang berkaitan dengan kegiatan jasad mikro. (Nurhajati Hakim dkk, 1986)

            Pada pH rendah, ion P akan mudah bersenyawa dengan Al, Fe atau Mn, membentuk senyawa yang tidak larut. Sedangkan pada pH tinggi ion P yang larut akan diikat oleh Ca mambentuk senyawa yang tidak larut. Dulu dipertahankan orang kisaran pH 6 hingga 7 untuk membentuk P lebih tersedia. Belakangan ditemukan bahwa pada pH lebih dari 6,0 sudah kurang tersedi. Tampaknya kelarutan maksimum dari P berada pada pH 5,5 hingga 6 sangat berarti bagi penyediaan P bagi Tanaman. (Nurhajati Hakim, 1982)

            Reaksi tanah yang dikategorikan menjadi tiga kelompok yaitu masam, netral  dan basa yang berkaitan erat dengan pH tanaman telah kita ikuti penjelasannya. Kenyataannya menunjukkan bahwa tanah pertanian yang bereaksi masam jauh lebih luas dan jauh lebih bermasalah dari pada tanah alkali. Oleh karena itu, tanah bereaksi masam dan masalah kemasaman tanah itu menjadi perhatian khusus. Kemasaman tanah merupakan hal yang biasa terjadi di wilayah yang bercurah hujan tinggi yang menyebabkan tercucinya basa – basa dari kompleks jerapan dan hilang melalui air drainase. Pada keadaan basa – basa habis tercuci, tinggallah kation Al dan H sebagai kation dominan yang menyebabkan tanah bereaksi masam. Basa – basa mudah tercuci, sedangkan Al mudah terjerap bersama ion H. (Coleman dan Thomas, 1967)

 

2.6 Nitrogen Tanah

            Sumber utama nitrogen untuk tanaman adalah gas nitrogen bebas di udara, yang menempati 78% dari volume atmosfer. Dalam bentuk unsur ia tidak dapat digunakan oleh tanaman. Nitrogen gas harus diubah menjadi bentuk nitrat maupun ammonium melalui proses – proses tertentu agar dapat digunakan oleh tanaman. (Nurhajati Hakim et al, 1986)

            Kehilangan nitrogen di dalam tanah dapat disebabkan melalui proses denitrifikasi, tercuci bersama air drainase, dan terfiksasi oleh mineral – mineral. Kehilangan nitrogen tergantung pada beberapa hal, antara lain saat panen kehilangan dapat diperbesar apabila dilakukan panen beberapa kali dalam satu tahun, demikian juga dapat dikontrol oleh manusia. (Hardjowigeno, 1992)

            Nitrogen tanah secara umum dapat dibagi dalam dua bentuk, yaitu bentuk organik dan anorganik. Bentuk organik merupakan bentuk yang terbesar. Bentuk anorganik terdapat sebagai bentuk ammonium, nitrit, nitrat, N2O, NO dan gas N2 yang hanya dapat digunakan oleh rhizobium. Bentuk N2O dan NO merupakan bentuk – bentuk yang hilang dari tanah dalam bentuk gas, akibat proses denitrifikasi. (Syarief, 1986)

            Proses transformasi nitrogen dalam tanah terjadi melalui 3 tahap, yaitu: (1) aminisasi; (2) amonifikasi; (3) nitrifikasi. (Nurhajati Hakim dkk, 1986)

BAB III

BAHAN DAN METODA

3.1 Fisika Tanah

A. Waktu dan Tempat

            Praktikum ini dilakukan pada hari senin pukul 10.30 – 12.10. bertempat di laboratorium Ilmu Tanah fakultas Pertanian Universitas Andalas.

B. Tujuan

            Praktikum ini dilaksanakan dengan tujuan untuk menentukan perbandingan relative antara pasir, debu, dan liat. Mnentukan bobot volume suatu tanah yang berkaitan dengan tekstur serta ruang pori turun dan untuk mengetahui kadar air tanah.

C. Metode

            Metode yang digunakan adalah grafimetrik dan metode pipet.

D. Alat dan Bahan

            Gelas piala, gelas ukur, tanah 2 mm, pipet tetes, tabung silindeer, pipet penghisap, timbangan analitik, karet penghisap, mesin pengocok, botol semprot, triplek, ring sampel. Bahannya adalah sampel tanah, H2O2 6%, H2O2 30%, asam asetat 99%, HCl 0,4 N, AgNO3, Na-hexametaphosphate 0,006 N, Aquadest.

E. Cara Kerja

            10 gram tanah sampel ditimbang kemudian ditambahkan H2O2 6% sebanyak 20 mL. kemudian ditambah dengan CH3COOH sebanyak 6 tetes lalu didiamkan selama 24 jam. Tanah dipanaskan di atas penangas airkemudian ditambah 10 mL H2O2 30%. Lalu diangkat kemudian ditambah dengan HCl 0,4 mol sebanyak 45 mL. didiamkan selama 24 jam. Sampel tanah dicuci dengan aquadest sampai jernih kemudian dimasukkan ke dalam ayakan 53 mikron untuk menentukan pasir. Tanah yang lolos ayakan dimasukkan ke dalam tabung silinder. Kemudian ditrambah dengan Na-hexmetaphsophate sebanyak 20 mL kemudian volumenya dicukupkan dengan menambah aquadest sehingga volumenya menjadi 1000 mL. setelah itu larutan tersebut diaduk. Kemudian larutan tersebut dipipet sedalam  15 cm sebanyak 25 mL dan dimasukkan ke dalam cawan aluminium, hal ini untuk menentukan debu. Setelah itu larutan didiamkan selama 3,5 jam. Lalu dipipet pada ke dalamansampai sebanyak 25 mL kemudian dimasukkan ke dalam cawan untuk menentukan liat. Setelah itu tanah dioven selama 24 jam, lalu ditimbang.

3.2 Penetapan C-organik Tanah dan Penetapan Phospor

A. Waktu dan Tempat

            Praktikum ini dilaksanakan pada hari senin tanggal 30 Maret 2009 pada pukul 10.30 – 12.10. bertempat di laboratorium Ilmu Tanah fakultas Pertanian Universitas Andalas.

B. Tujuan

            Praktikum ini dilakukan dengan tujuan untuk menentukan bahan organik tanah serta perbandingan antara C dan N dalam menilai tingkat pelapukan bahan organik. Menetapkan P yang larut dan yang tersedia dalam tanah masam, tanah basa, maupun tanah netral yang berasal dari ikatan Al-P, Fe-P, Ca-P.

C. Metoda

            Metoda yang digunakan adalah Walkley And Black dengan spektrofotometer. Pada penetapan Phospor tersedia digunakan metoda Bray-2.

D. Alat dan Bahan

            Larutan 1 N kalsium Kromat (49,04 K2Cr2O7 / 1L air suling), asam sulfat pekat (96% H2SO4), larutan 0,5 % barium kloroda (5 g BaCl2/ 1 L air suling), sakrosa baku dan tissue. Bahannya adalah larutan Bray-2 (0,1 N HCl + 0,03 N NH4F)/ larutan P-A (larutan 1,11 g NH4F + 16,64 mL HCl 6 N dalam 1L aquadest), pereaksi B (larutan P-B), pereaksi C (larutan P-C)

E. Cara Kerja

            Penetapan C-organik: 29,68 g sukrosa yang telah kering tanur ditimbang, dilarutkan dengan air suling dalam labu ukur 250 mL. Kemudian dipipet berturut – turut 5, 10, 15, 20, dan 25 mL larutan (1) masukkan dalam 5 buah labu ukur 100 mL. Diencerkan hingga 100 mL dengan air suling. Dipipet masing – masing larutan (2) sebanyak 2 mL dimasukkan ke 5 buah Erlenmeyer.

            Penetapan P tersedia: dibuat satu deret larutan baku berkadar 0, 1, 2, 3, 4, 5 ppm dengan dilarutkan 0,0548 g KH2PO4 (kering 40o) dengan 250 mL larutan Bray-2. Dipipet berturut – turut 0 – 5 mL larutan 50 ppm P labu ukur 50 mL, maka didapat deret larutan yang dimaksud. Kemudian dipipet 5 mL larutan baku ke tabung reaksi/ kuvet kemudian ditambah 5 mL larutan P-B dan 5  tetes larutan P-C dan seterusnya sesuai dengan cara untuk penetapan contoh.

3.3 Penetapan Kapasitas Tukar Kation dan Basa – Basa

A. Waktu dan Tempat

Praktikum ini dilaksanakan pada hari senin tanggal 27 April 2009 pada pukul 10.30 – 12.10. bertempat di laboratorium Ilmu Tanah fakultas Pertanian Universitas Andalas.

B. Tujuan

            Praktikum ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui kemampuan tanah dalam menjerap kation yang dapat dilepaskan kembali sehingga tersedia bagi tanaman.

C. Metoda

            Metoda yang digunakan adalah metoda Leaching (pencucian) dengan ammonium asetat 1N pH 7.

D. Alat dan Bahan

            Ammonium asetat 1N pH 7, alcohol 90%, natrium hidroksida 40%, indicator Conway, asam sulfat 0,1 N serta asam borat 4%. Alatnya adalah timbangan analitik, alat destilasi,  gelas piala, batang pengaduk gelas arloji, gelas ukur 50 mL, botol semprot, corong, kertas saring, labu ukur 100 mL, pipet, buret, Erlenmeyer, labu Kjeldahl 1000 mL.

E. Cara Kerja

            Dimasukkan 2,5 g sampel tanah ultisol ke dalam botol film, lalu ditambah 25 mL larutan ammonium asetat, dikocok dengan mesin pengocok dan biarkan semalam. Setelah itu larutan disaring dengan kertas saring dan ditampung dengan labu ukur 50 mL, sisa sampel tanah yang ada di kertas saring pada gelas piala dicuci dengan 20 – 30 mL amonium asetat dan diulang sampai beberapa kali sampai filtrate yang ditampung sampai 50 mL. Dipindahkan ke labu ukur dan tepatkan volumenya sampai 50 mL dengan ammonium asetat pH 7. Sampel tanah dicuci dengan 20 – 30 mL alcohol untuk setiap kali pencucian/ dipindahkan sampel tanah kering pada kertas saring ke dalam labu kjeldahl dan ditambhkan 40 mL aquadest dan juga  20 mL NaOH 40%. Kemudian dihubungkan dengan alat destilasi.

            Hasil destilasi ditampung dengan Erlenmeyer yang berisi 15 mL asam borat dan 3 tetesan indicator Conway. Detilasi dihentikan setelah mencapai 40 mL dan warna telah berubah menjadi hijau kebiru – biruan. Destilat dititrasi dengan asam sulfat 0,1 N sehingga warna kembali merah muda. Dengan cara yang sama dilakukan juga untuk blanko. Penetapan K, Na, Ca, dan Mg dapat dipertukarakan dengan metode pencucian ammonium asetat. (Hakim et al, 1986)

3.4 Penetapan pH H-dd dan Al-dd

A. Waktu dan Tempat

Praktikum ini dilaksanakan pada hari senin tanggal 20 April 2009 pada pukul 10.30 – 12.10. bertempat di laboratorium Ilmu Tanah fakultas Pertanian Universitas Andalas.

B. Tujuan

            Adapaun tujuan dari dilakukannya praktikum ini adalah untuk menentukan reaksi atau derajat kemasaman dan kebebasan suatu tanah, sehingga kita dapat menentukan pengelolaan tanah yang cocok untuk tanah tersebut.

C. Metoda

            Metoda yang digunakan adalah elektroda gelas pH meter dan penetapan H-dd dan Al-dd adalah Volumetri.

D. Alat dan Bahan

            Bahan dan alat yang digunakan pada penetapan pH adalah sebagai  berikut. Aquadest, larutan KCl, larutan buffer pH 4 dan pH 7, timbangan, tabung kocok, labu semprot, gelas ukur, mesin kocok, elektroda gelas pH dan tissue.sedangkan pada penetapan H-dd dan Al-dd adalah larutan Kcl, pp, larutan NaF, larutan baku HCl, NaOH kertas saring walkman, tissue, Erlenmeyer, corong, tabung plastic, mesin kocok, pipet buret.

E. Cara Kerja

            Pada penetapan pH. Dimasukkan 10 g sampel tanah ke dalam botol kocok dan ditambah 50 mL aquadest dengan gelas ukur. Dikocok 30 menit dengan mesin pengocok. Dibiarkan 1 jam. Cara yang sam dilakukan untuk pelarut KCl. Kemudian diukur dengan pH meter.

            Pada penetapan H-dd dan Al-dd. 5 g tanah ditimbang, dimasukkan ke dalam 250 mL, ditambah 50 mL 1N KCl, ditutup dengan plastic. Dikocok 15 menit. Disaring dengan mneggunakan kertas saring ke dalam tabung plastic. Dipipet hasil saring sebanyak 25 mL ke Erlenmeyer 150 mL, ditambah 5 tetes indicator pp. dititar dengan 0,1 N NaOH sampai muncul warna pink, dicatat NaOh terpakai. Ditambah 1 tetes 0,1 N HCl sehingga warna pink hilang. Ditambah 10 ml larutan NaF 4% warna merah akan muncul jika tanah mengandung Al. dititar kembali dengan 0,1 N HCl sampai warna merah hing. Dicatat HCl yang terpakai.

3.5 Nitrogen Tanah

A. Waktu dan Tempat

Praktikum ini dilaksanakan pada hari senin tanggal 23 Maret 2009 pada pukul 10.30 – 12.10. bertempat di laboratorium Ilmu Tanah fakultas Pertanian Universitas Andalas.

B. Tujuan

            Praktikum ini dilakukan dengan tujuan untuk menentukan potensi nitrogen tanah untuk menilai kemampuannya untuk menyediakan kebutuhan N bagi tanaman.

C. Metoda

            Metoda yang digunakan dalam praktikum ini adalah Kjeldahl.

D. Alat dan Bahan

            Labu Kjeldahl, Erlenmeyer, gelas ukur, labu semprot, pipet takar, unit destruksi, destilasi kjeldahl, buret. Larutan H2SO­4 pekat. Campuran serbuk selenium, NaOH 40%, asam borat 4%. Aquadaest, indicator Conway, dan H2SO4 0,1 N.

E. Cara Kerja

            Sampel tanah kering udara ditimbang 0,5 g ditambah 1 g serbuk selenium, ditambahkan 5 mL larutan H2SO4 pekat. Kemudian digoyangkan sedikit, lalu dilakukan destruksi sehingga warnanya menjadi putih susu. Sebelum masuk proses detilasi, disiapkan terlebih dahulu labu penampung Borat 4% sebanyak 25 mL yang ditambah 3 tetes indicator Conway. Lalu destilasi dilakukan hingga larutan penampung berwarna hijau kebiruan.

            Setelah itu dilakukan titrasi dengan menambahkan H­2SO4 0,1 N hingga warnya pink kembali. Dilakukan cara yang sama untuk blanko.

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Fisika Tanah

4.1.1 Hasil

            Dari praktikum yang telah dilakukan, maka diperoleh hasil sebagai berikut.

No.

Tekstur

Berat + cawan (g)

%

1.

Pasir

6,5

30,23

2.

Debu

10,3

46,74

3.

Liat

6,09

23,02

Berat triplek    : 11,9 g

Berat ring        : 216,6 g

– Pada percobaan pengukuran kadar air, diperoleh persen kadar air sebesar 15,44%.

4.1.2 Pembahasan

            Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan dan hasil yang telah diperoleh, maka dapat dinyatakan beberapa pernyataan sebagai berikut. Dari hasil yang telah diperoleh apabila dicocokkan dengan diagram segitiga tekstur berdasarkan USDA diperoleh tanah yang diteliti memiliki tekstur Lempung.

            Tanah yang berlempung memiliki sifat sebagai berikut. Rasa  agak licin, agak melekat, dapat dibentuk bola agak teguh, dan dapat dibentuk gulungan yang agak mudah hancur. (Sarwono, 2003)

            Kadar air tanah sangat mempengaruhi pertumbuhan tanaman. Guna air bagi tumbuhan adalah: sebagai unsur hara tanaman, sebagai pelarut unsur hara, sebagai bagian dari sel – sel tanaman. Air dapat meresap atau ditahan oleh tanah karena adanya gaya – gaya adhesi, kohesi, dan gravitasi. (Hardjowigeno, 2003)

4.2 Penetapan C-Organik dan Penetapan Phospor

4.2.1 Hasil

            Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan, maka diperoleh hasil sebagai berikut.

C-organik

No.

Standar (x)

Absorban (y)

1.

0

0

2.

5

0,011

3.

10

0,119

4.

15

0,130

5.

20

0,167

6.

25

0,289

Sampel C-organik

No.

Absorban (y)

1.

0,219

Hasil yang diperoleh

Sampel

%C-organik

%Bahan organik

Kriteria

1

5,13%

8,82%

Sedang

–          Untuk data tentang P tersedia tidak diperoleh hasil.

4.2.2 Pembahasan

            Dari hasil praktium yang telah diperoleh, untuk data tentang P tidak diperoleh hasil. Hal ini dikarenakan ada beberapa kesalahan dalam pencampuran larutan. Sehingga ketika diukur dengan spektrofotometer, hasil yang ditunjukkan tidak menunjukkan hasil yang signifikan.

            Untuk praktikum tentang penetapan C-organik diperoleh hasil senilai 5,13 %. Dan hal itu berarti kandungan bahan organic dalam tanah yang diuji senilai 8,82 % (sesuai dengan lampiran). Data tersebut menunjukkan bahwa bahan organic yang terdapat di dalam tanah tersebut berjumlah sedang, seperti yang dilampirkan pada table yang terdapat pada lampiran. (Netson, 1956)

 

4.3 Penetapan Kapasitas Tukar Kation

4.3.1 Hasil

            Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan, maka diperoleh hasil sebagai berikut.

Penetapan KTK

Sampel

mL H2SO4

KTK (me/ 100g)

I

2,75

12,084

II

3,05

13,452

Penetapan K, Na, Ca, dan Mg dapat dipertukarkan

Unsur

ppm

BE

dd (me/ 100g)

K

0,2

29

0,08

Na

0,232

23

0,11

Ca

1.982

20

1,13

Mg

0,17

12

0,16

 

4.3.2 Pembahasan

            Pada percobaan pertama, terdapat perbedaan antara sampel pertama dan kedua dalam hal nilai KTKnya. Hal ini disebabkan karena pengaruh dari banyak sedikitnya nilai H+ yang terkandung di dalam larutan, atau dengan kata lain dapat dikatakan bahwa karena adanya pengaruh pH yang terdapat pada tanah sampel tersebut. Hal ini sesuai dengan yang diungkapkan oleh para ahli (seperti pada tinjauan pustaka).

            Pada percobaan kedua, nilai dapat ditukar untuk unsur Ca lebih besar dibandingkan dengan unsur – unsur yang lainnya. Hal ini mungkin terjadi karena nilai ppnya juga lebih tinggi dibandingkan dengan yang lainnya . hal yang mungkin menjadi alas an lain menurut para ahli mungkin sebagai berikut. Sejumlah asam karbonat dan asam lainnya dibentuk bersamaan dengan proses dekomposisi bahan organic. Ion H yang terbentuk mulai menggantikan ion Ca yang berada dalam kompleks jerapan. Pertukaran ion itu terjadi sebagai akibat aksi massa. (Hakim et al, 1986)

4.4 Penetapan pH, H-dd dan Al-dd

4.4.1 Hasil

            Dari praktikum yang telah dilakukan, maka diperoleh lah hasil sebagai berikut.

Percobaan I

Pelarut

pH terukur

pH sebenarnya

H2O

6,05

5,96

KCl

6,58

6,46

 

Percobaan II

Me Al-dd/ 100 g = 1,14

Me H-dd/ 100 g  = 0,18

4.4.2 Pembahasan

            Berdasarkan hasil praktikum yang telah diperoleh pada percobaan pertama jika kita cocokkan dengan table kisaran pH seperti yang terdapat pada lampiran, maka kita akan memperoleh beberapa keterangan sebagai berikut. Untuk tanah yang berpe;arut H2O diperoleh hasil sedang (kemasaman bersifat sedang). Sedangkan pada tanah yang menggunakan pelarut KCl diperoleh hasil sedikit (tanah bersifat sedikit masam). Hal ini sesuai dengan pernyataan oleh beberapa ahli bahwa hasil pengukuran pH dengan menggunakan pelarut KCl biasanya rendah dari pada dengan menggunakan aquadest, yaitu 0,5 – 1,5. (Hakim, 2009)

            Pertumbuhan tanaman dipengaruhi oleh pH tanah melalui dua cara, yaitu pengaruh langsung ion H+ dan pengaruh tidak langsung seperti tidak tersedianya unsure hara tertentu dan adanya unsur hara yang beracun. Tanaman menghendaki pH tertentu untuk dapat berproduksi dan berkembangbiak. (Hakim et al. 1986)

4.5 N Total Tanah

4.5.1 Hasil

            Dari hasil praktikum yang telah dilakukan, maka diperoleh hasil sebagai berikut.

mL H2SO4

Berat sampel

%N

0,65

500 mg

0,17556%

4.5.2 Pembahasan

            Jika bahan organic yang dihancurkan mempunyai N lebih besar dari 30, maka akan terjadi immobilisasi nitrogen tanah. Pada saat ini semua nitrogen anorganik yang tersedia di dalam tanah akan dikonveksikan ke dalam tubuh organism dalam bentuk anorganik. Dengan kata lain diubah terlebih dahulu menjadi bahan organic. Dalam hal ini nitrifikasi dapat dikatakan terhenti antara tanaman dengan bakteri.

            Pada saat nisbah C/N kecil dari 20, maka terjadi pelepasan nitrogen dari bahan organic akibat dekomposisi dalam tanah, dan dalam keadaan demikian, sebahagian bahan organic telah lapuk di mana bahan berenergi telah berkurang dan asimilasi nitrogen oleh bakteri juga berkurang. Keadaan ini akan menunjang proses nitrifikasi dan nitrat mulai menimbun, jadi C/N melalui pengaruhnya terhadap organism tanah dapat mengendalikan nitrifikasi dan adanya nitrat melalui dalam tanah. (Hakim et al, 1986)

            Sumber utama nitrogen untuk tanaman adalah gas nitrogen bebas di udara. Yang menempati 78% dari volume atmosfer, di mana nitrogen dalam bentuk unsure tidak dapat digunakan oleh tanaman. Gas nitrogen harus dirubah terlebih dahulu menjadi bentuk nitrat. Setelah itu baru bias digunakan oleh tumbuhan untuk proses perkembangannya. Kadar nitrogen pada jenis tanah berbeda – beda sepeerti pada tanah ultisol.

BAB V

PENUTUP

5.1 Kesimpulan

            Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan dan hasil yang telah diperoleh, maka dapat kita simpulkan beberapa pernyataan sebagai berikut. Dalam melakukan praktikum dengan meneliti langsung ke lapangan, kita bisa mengamati tekstur tanah dengan langsung merabanya dengan menggunakan jari. Jika sudah terbiasa, maka kita bisa langsung bisa menerka jenis tekstur tanah yang kita uji di mana hasilnya bisa jadi sama dengan hasil dari laboratorium. Walaupun berbeda, paling bedanya tidak jauh berbeda. Pada praktikum di laboratorium bisa digunakan beberapa zat untuk menentukan teksturnya. Kemudian langkah terakhirnya mencocokkan data dengan segitiga tekstur berdasarkan USDA.

            Dengan penetapan C-organik tanah dan penetapan phosphor kita dapat menegtahui jumlah kandungan bahan organic dalam tanah. Sehingga dalam pengolahan lahan pertanian kita bisa memprediksikan berapa jumlah bahan organic yang dibutuhkan oleh tanah untuk menunjang pertumbuhan tanaman yang sedang dibudidayakan. Selain itu, kita juga telah meniliti kapasitas tukar kation pada suatu tanah. Dan dari hasil yang telah kita dapat kita telah mengetahui kemampuan tanah dalam menjerap kation yang dapat dilepaskan kembali sehingga tersedia bagi tanaman.

            Pada pengukuran pH tanah, setelah dihubungkan dengan teori ternyata diperoleh hasil yang serasi yaitu hasil pengukuran pH dengan menggunakan pelarut KCl biasanya rendah dari pada dengan menggunakan aquadest, yaitu 0,5 – 1,5. Dan itu terbukti ketika diuji di lapangan. Penentuan kandungan N dalam tanah sangat berguna untuk menentukan potensi nitrogen tanah untuk menilai kemampuannya untuk menyediakan kebutuhan N bagi tanaman. Dan gas nitrogen harus dirubah terlebih dahulu menjadi bentuk nitrat agar bisa diserap oleh tanaman.

5.2 Saran

            Berdasarkan pengalaman praktikum yang telah saya alami, saya menyarankan kepada praktikan selanjutnya agar mempelajari tentang bahasan yang akan dipraktikumkan sebelum memulai praktikum. Dengan kata lain persiapkan diri untuk menghadapi praktikum. Kemudian pelajari baik – baik buku penuntun yang telah diberikan. Saya juga menyarankan untuk memperhatikan dengan seksama ketika asisten sedang memberikan asistensi karena jikalau tidak focus maka bisa jadi berakibat fatal ketika melakukan praktikum.

            Kepada asisten saya menyarankan agar buku penuntun praktikumnya lebih diperjelas lagi. Hal ini perlu direspon agar ke depan tidak lagi mengalami kesalahan dat. Semoga saran saya ini berguna dan saya mohon maaf jika ada kata – kata yang salah.

DAFTAR PUSTAKA

Ahmad, Fachri. 1981. Dasar – Dasar Ilmu Tanah. Universitas Andalas: Padang.

Coleman, N. T and Thomas, G. W. 1967. Soil Acidiity and Liming. Amer. Soc. Agron. 12.

Hakim, Nurhajati, dkk. 1986. Dasar – Dasar Ilmu Tanah. Universitas Lampung:                           Lampung.

Hakim, Nurhajati. 2009. Penuntun Ringkas Dasar – Dasar Ilmu Tanah. Universitas Andalas: Padang.

Lubis A. M. 1986. Dasar – Dasar Ilmu Tanah. UNILA: Lampung.

Hardjowigeno, Sarwono. 2003. Ilmu Tanah. Akademika Pressindo: Jakarta.

Soebagjo. 1970. Dasar – Dasar Ilmu Tanah. PT Perseroan: Jakarta.

Soepardi, C. 1983. Sifat dan Ciri Tanah. IPB: Bogor.

Categories: Pertanian | Tags: , , | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: